Penyebutan nama lebah (nahl) dalam Al Quran tentu suatu perkara besar. Lebah memang suatu binatang yang istimewa. Hidupnya berkelompok (berkoloni) dengan pembagian tugas yang sangat rapi. Satu hal yang harus diingat, lebah telah ada sejak zaman purba yaitu 65 juta tahun yang lalu dan tidak mengalami perubahan bentuk sedikitpun. Binatang-binatang lain seperti dinosaurus musnah, sedangkan lebah tidak musnah meskipun terjadi musim dingin yang sangat hebat.
Surat An Nahl terdiri atas 128 ayat. Mayoritas ulama menggolongkan surat Makkiyyah, yakni surat yang turun sebelum Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah. Nama “An Nahl” terambil dari ayat 68 dan hanya sekali itulah Al Quram menyebutnya. Ada juga ulama yang menamakan surah ini surah An Ni’am karena banyak nikmat Allah yang diuraikan didalamnya.
Seorang ulama bernama Al Biqa’i menjadikan nama surah sebagai petunjuk tentang tema utamanya. Ulama abad 8 Hijrah ini berpendapat bahwa tujuan pokok dan tema utama surah An Nahl adalah membuktikan kesempurnaan kuasa Allah dan keluasan ilmu-Nya, bahwa Dia bebas bertindak sesuai kehendak-Nya lagi tidak disentuh oleh sedikit kekurangan pun.
Sifat dan keadaan lebah (An Nahl) sungguh menunjukkan pemahaman yang dalam serta keserasian yang mengagumkan, antara lain terlihat dari sarangnya, cara pemeliharaan, keanekaragaman madu yang dihasilkan, khasiat madu sebagai obat dan bunga sebagai makanan utama lebah.
Imam As Suyuthi menyatakan bahwa surah yang terdahulu merupakan pengantar bagi surah berikutnya. Berarti surah An Nahl ini adalah pengantar surah Al Isra’ (Bani Israil). Lebah dipilih Allah untuk melukiskan keajaiban Ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj sebagaimana tercantum QS. Al Isra’.
Nabi Muhammad Saw. adalah manusia seutuhnya. Lebah dipilih sebagai pengantar penjelasan tentang manusia seutuhnya. Rasulullah Saw. mengibaratkan seorang mukmin seperti lebah: tidak makan kecuali yang baik dan indah seperti bunga-bunga, tidak menghasilkan kecuali yang baik dan bermanfaat seperti madu yang merupakan minuman kesehatan dan obat, tidak hinggap di tempat yang kotor, tidak mengganggu kecuali ada yang mengganggunya dan jika menyengat, sengatannya pun menjadj obat.
Dalam Al Quran Allah mencantumkan lebah pada QS. An Nahl [16]: 68-69
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.
Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”. QS. An Nahl [16]: 68-69
Menurut ayat tersebut ada tiga amanat Allah yang diberikan kepada lebah, yaitu:
1. Lebah bisa diternakkan, ditegaskam dalam kalimat, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.
2. Lebah tak akan merugikan manusia, ia justru memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi manusia meskipun makan buah-buahan yang ditanam manusia. “Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”.
3. Lebah ialah binatang yang baik hati, tak akan mengganggu manusia jika tidak diganggu terlebih dahulu. “tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)”.
A. Susu, Kurma, Anggur dan Madu
Ayat tentang lebah diatas tidak berdiri sendiri, tetapi ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Perhatikan ayat-ayat tersebut,
65. Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).
66. Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.
67. Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (Kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.
Tidak salah surat An Nahl disebut juga surah An Ni’am (nikmat) karena dalam ayat-ayatnya disebutkan berbagai nikmat Allah yang diturunkan pada manusia, yaitu: air hujan (ayat 65), susu (ayat 66), korma dan anggur (ayat 67), dan terakhir madu yang berfungsi sebagai penyembuh bagi manusia (fi-hi syifa-u linna-s). Al Biqa’i berpendapat pembuktian kekuasaan Allah melalui lebah jauh lebih mengagumkan daripada yang lainnya.
Ibn’ Asyur membedakan madu dengan yang lainnya. Susu dan buah-buahan diperoleh dengan campur tangan manusia, yaitu dengan cara diperas, sedangkan madu tanpa memerasnya dan jumlahnya paling sedikit.
Kata an nahl adalah bentuk jamak dari kata an nahlah yang berarti lebah. Kata yang terambil dari akar kata yang bermakna menganugerahkan yang mengisyaratkan bahwa binatang tersebut memperoleh anugerah khusus dari Allah Swt.
Allah memerintahkan lebah membuat sarang dengan bentuk segi enam. Bentuk ini adalah bentuk yang paling efisien karena tidak asa ruang kosong yan tersisa sehingga tidak memungkinkan serangga lain menempati sarangnya. Bentuk ini juga paling kuat karena tidak bisa miring ke kiri atau ke kanan. Pada mulut-mulut ruangan lebah menempatkan cairam serupa lilin (disebut tepungsari) yang menghalangi tumpahnya madu.
B. DOC = Direction of Cure
Sebuah hadits Rasulullah Saw. Yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri menyebutkan,
“Pada suatu ketika datanglah seorang laki-laki menghadap Rasulullah Saw. Dan berkata, “Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya”.
Rasulullah berkata, “Minumkanlah padanya madu”.
Orang itu lalu pergi dan kembali lagi, ia berkata, “Aku telah meminumkannya madu, namun tidak ada perubahan apa-apa” – Pada hadits yang lain disebut dengan redaksi, “Madu itu hanya membuat perutnya lega 2 atau 3 kali.
Setiap kali menerima pengaduan laki-laki itu Rasulullah Saw. Bersabda, “Allah pasti benar, yang berdusta adalah perut saudaramu. Pergilah dan minumkanlah padanya madu”.
Kemudian laki-laki itu pergi dan meminumkan madu kepada saudaranya dan sembuhlah saudaranya itu”.
Peristiwa tersebut dalam dunia penyembuhan disebut reaksi DOC (Direction of Cure) yaitu reaksi proses penyembuhan atau reaksi tindak balas. Bukan saja minum madu yang memberikan reaksi seketika sakit perut atau mulas-mulas, minum habbatussauda juga demikian. Ada juga reaksi setelah disengat lebah berupa demam, minum herba menjadi pusing-pusing, dll.
Banyak sekali jenis reaksi tindak balas ini, diantaranya: leher terasa tegang, sakit kepala, tekanan darah turun/naik, berak berdarah, kadar gula meningkat, tangan dan kaki bengkak, keputihan dan haid tidak teratur pada wanita, sendi terasa sakit, wajah menjadi merah, sering buang air kecil, dsb. Jangka waktu reaksi DOC juga bermacam-macam, ada yang hanya 1-3 jam seperti pada demam setelah disengat lebah, hingga berhari-hari.
Hal ini tentu berbeda dengan pengobatan konvensional yang berdalih memberi resep “cespleng”. Begitu minum obat penyakit hilang. Benarkah demikian? Ternyata tidak!
Obat yang diminum ternyata hanya menghilangkan rasa sakit, sedangkan penyakitnya sendiri tetap ada. Misalkan seseorang yang sakit kepala minum suatu obat dan kemudian sakit kepalanya reda. Padahal penyebab sakit kepala bisa datang dari arah mana saja: tidak punha uang, banyak masalah, kelebihan asam lambung, gigi berlubang, dll.
Ketika seseorang minum obat maka yang hilang adalah gejala (rasa) sakitnya, sedangkan sumber penyakitnya tetal tidak tersentuh. Selanjutnya setelah efek obatnya hilang maka rasa sakit itu akan muncul lagi.
Sedangkan dengan mengomsumsi herba (madu, habbatus sauda, zaitun, simplisia, dll) akan terjadk perbaikan organ tubuh yang rusak atau mengalami peradangan. Hal ini memerlukan waktu lama dan tidak mustahil disertai rasa sakit yang disebut DOC. Namun penyembuhan oleh herba bersifat permanen dan merupakan perbaikan organ tubuh yang rusak. Bukan sekedar menghilangkan rasa sakit.
Peristiwa DOC sudah terjadi sejak zaman Nabi disaat seorang sahabat berobat dengan madu. Orang tersebut perlu waktu tiga hari sebelum akhirnya sembuh.
C. Mempertebal Iman
Dengan memperhatikan salah satu ciptaan Allah, yaitu lebah, akan mempertebal iman dan takjub akan kekuasaan-Nya. Kekuasaan Allah menciptakan detil-detil yang sangat halus pada lebah tidak sekedar berdimensi keindahan, namun juga mengandung fungsi-fungsi yang senantiasa harus digali.
Pada diri lebah tak ada satu unsur pun yang tidak dapat diambil manfaatnya. Air liurnya bermanfaat, “debu-debu” yang menempel di kakinya yang harus dibersihkan sebelum memasuki sarang dikenal dengan nama tepung sari juga bermanfaat. Bandingkan dengan debu-debu atau kotoran yang menempel pada alas kaki manusia yang tidak ada gunanya.
Allah menunjukkan kekuasaan-Nya pada lebah yang ribuan jumlahnya. Lebah-lebah itu menempati ribuan sarang, menghisap aneka bunga, namun tidak pernah salah memasuki rumahnya dan salah dalam menghisap bunga. Lebah tahu bunga mana yang telah dihisap nektarnya sehingga dia tidak akan singgah pada bunga itu yang berarti ada efesiensi tenaga dan waktj. Ini adalah pelajaran bagi manusia agar tidak menghambur-hamburkan waktu dan senantiasa bertindak efektif dan efesien.
Sayang sekali hingga saat ini manusia hanya memanfaatkan madunya saja, sedangkan dari lebah dapat diambil 7-8 manfaat. Mengacu pada bunyi ayat “fi-hi syifa-u linna-s” , “didalamnya terdaoat kesembuhan bagi manusia” tentu saja bukan hanya madu yang dapat memberikan kesembuhan. Bagian yang lain juga memberikan kesembuhan, yaitu: propolis, tepung sari, lilin lebah, dll.
Manfaat yang paling tinggi adalah sengat lebah (bee venon). Mengapa? Bee venon memiliki tingkat penyembuhan penyakit sangat hebat dan dasyat. Telah terbukti orang-orang dengan penyakit nyeri sendi, rheumatik, asam urat dapat disembuhkan dengan sengat lebah dengan sekali kunjungan saja. Sedangkan penyakit-penyakit berat seperti lumpuh, stroke memerlukan beberapa kali pengobatan karena syaraf-syarafnya telah lama beku tidak menunjukkan aktifitas.
Literatur tentang pengobatan dengan bee venon belumlah banyak, untuk tidak menyebut tidak ada. Kelebihan sengat lebah dibanding metoda lainnya adalah “sengat” yang ditinggalkan lebah akan bergerak ke seluruh jaringan tubuh dan “mereparasi” segala kerusakan yang dijumpai. Dengan demikian kesalahan tempat dalam menyuntik tubuh pasien dapat ditoleransi. Tak heran jika anak-anak pun terbiasa memegang lebah dan menyuntikkannya.
Kelemahannya, biasanya pada kacamata pasien, pengobatan dengan sengat lebah terasa “menyakitkan” dibanding menggunakan metoda lainnya. Mendengar kata “disengat lebah” yang terbayang adalah kepala membesar, tubuh bengkak-bengkak dan sakit demam. Ini adalah anggapan salah karena lebah yang digunakan dalam pengobatan sengat lebah adalah lebah “apis cerana” (lebah madu ternak) yang ukuran badannya kecil dan sengatannya tidak menyakitkan.
Seiring dengan kesadaran masyarakat kembali pada pengobatan alami, pengobatan dengan sengat lebah ini haruslah dikembangkan karena landasannya sangat kuat, yaitu Firman Allah dalam Al Quran. Sengat lebah juga tidak membawa efek samping. Sengat lebah adalah penyambung nyawa bagi mereka yang sakit.
Sekian informasi yang saya bagikan, Semoga Informasi yang saya bagikan bisa bermanfaat bagi kalian semua. Terima Kasih ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar